Konyol, berkelahi gara-gara capres

Share Button

“Pamekasan – Suto dan Saleh, dua penarik becak di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, terlibat perkelahian karena berdebat soal capres jagoannya masing-masing. Suto adalah pendukung capres Jokowi-Jusuf Kalla, sementara Saleh adalah pendukung Prabowo-Hatta Rajasa.” Globalindo.co

image

Masa pemilihan Presiden sebentar lagi datang. 9 juli 2014. Rasanya tidak sabar untuk segera memiliki Presiden baru yang lebih tegas, lebih kreatif, dan lebih cepat daripada yang sekarang. Untung saja jabatan capres hanya diperbolehkan 2 periode. Andaikata lebih, pasti SBY akan maju lagi. Dan… kemungkinan besar, dia yang menang. Dan… Tidak akan ada perubahan besar yg segera bisa terjadi.

Bagi yang mau sunat di wilayah Makassar dan sekitarnya, bisa hubungi Klinik BTP di no. Telpon 08111774435

Menarik untuk melihat fenomena capres saat ini. Gaungnya ternyata tidak kalah dari fenomena Piala dunia 2014. Selalu saja ada berita-berita hot tentang kedua profil kedua capres yang membuat panas dan emosi para pendukung kedua pihak.

Saya sering melihat beberapa teman bertengkar dengan kata-kata emosi di dunia maya. Padahal saya tahu di dunia nyata dulunya mereka berteman baik. Saya rasa,  pertengkaran itu, kalau mereka bertemu kelak, akan mempengaruhi nuansa persahabatan mereka.

Mengapa ya hal ini bisa terjadi?
1. Dunia mengalami revolusi komunikasi setelah munculnya media sosial seperti facebook dan twitter. Orang-orang memiliki wadah untuk berekspresi dengan cepat/instan darimanapun mereka berada. Orang di kutub utara dan orang di papua bisa berkomunikasi seperti orang berhadap-hadapan langsung. Jarak menjadi tak berarti. Ini membuat semua orang dengan leluasa berekspresi untuk menunjukkan siapa dirinya.

2. Sudah sifat alami manusia untuk sering bergunjing atau membicarakan sifat jelek orang lain. Ya, walaupun itu buruk, tapi tidak terhindarkan. Kemudahan berinteraksi membuat budaya gosip tidak lagi terbatas pada fisik tapi merambat ke dunia maya. Orang malah jadi lebih suka bergosip di dunia maya, karena bisa dilakukan sambil tiduran, dan bisa merambah puluhan teman secara mudah

3. Menjelang Pemilu presiden. Publik terbagi dua. Ada pendukung Jokowi dan ada pendukung Prabowo. Kedua pihak memiliki pendukung fanatiknya sendiri-sendiri. Namun, sangat disayangkan, begitu banyak pendukung yang tidak dewasa dalam berpikir. Ketidaksukaan terhadap satu capres membuatnya selalu mencari-cari bahan untuk menjelek-jelekkan capres tertentu. Alhasil, walaupun itu berita tidak benar, mereka akan dengan mudahnya menshare berita itu agar diketahui oleh khalayak.

4. Pendukung fanatik memiliki ikatan emosional yang kuat dengan capres yang didukungnya. Mereka tidak bisa terima begitu saja kalau capresnya difitnah dan dijelek-jelekkan di depan publik. Itulah sebabnya, akan terjadi argumentasi dan pembelaan terhadap capres pilihan. Pertengkaran pun sering terjadi selanjutnya.

Bertengkar karena capres? Putus silaturahim karena capres? Tunggu sebentar. Apakah itu penting? Apakah capres lebih penting dari hubungan silaturahim kita? Tentu saja tidak. Coba saja pikir. Bahkan capres itu tidak mengenali kita sebagai pemilihnya. Kalau terjadi bunuh-bunuhan pun tidak ada efek bagi mereka.

So, please! Calm down! Berdebat itu bisa, tapi ingat silaturahim lebih penting dari berdebat.

Sebaiknya, bagi yang merasa sering menyebar berita tidak jelas kebenarannya, silahkan berpikir ulang. Apakah manfaatnya itu bagi Anda? Apakah berita yang anda share sudah pasti mempengaruhi pilihan capres teman sosial media anda? Saya yakin, justru fitnah-fitnah anda akan berdampak buruk bagi kredibilitas anda di mata teman-teman anda.  Anda mungkin akan dikenal sebagai tukang fitnah emosional di hati teman-teman anda.

Sebaliknya bagi pembaca status black campaign, tahan-tahan dulu emosi anda. Sampaikan saja argumentasi secara  santun. Ingat, ini hanya capres. Silaturahim anda berdua jauh lebih penting daripada capres.

Dr. Amrizal
Makassar, 21 juni 2014 (1054)

Share Button

Comments are closed.